Jumat, 02 Maret 2012

PENELITIAN TINDAKAN KELAS


PENELITIAN TINDAKAN KELAS

1.  Latar Belakang

            Belakangan ini Penelitian Tindakan Kelas  (PTK) semakin menjadi ternd untuk dilakukan oleh para profesional sebagai upaya pemecahan masalah dan peningkatan mutu di berbagai bidang. Awal mulanya, PTK, ditujukan untuk mencari solusi terhadap masalah sosial ( penganuran, kenakalan remaja, dan lain-lain) yang berkembang di masyarakat pada saat itu. PTK dilakukan dengan diawali oleh suatu kajian terhadap masalah tersebut secara sistematis. Hal kajian ini kemudian dijadikan dasar untuk mengatasi masalah tersebut. Dalam proses pelaksanaan rencana yang telah disusun, kemudian dilakukan suatu observasi dan evaluasi yang dipakai sebagai masukan untuk melakukan refleksi atas apa yang terjadi pada tahap pelaksanaan. Hasil dari proses refeksi ini kemudian melandasi  upaya perbaikan dan peryempurnaan rencana tindakan berikutnya. Tahapan-tahapan di atas dilakukan berulang-ulang dan berkesinambungan sampai suatu kualitas keberhasilan tertentu dapat tercapai.
         Dalam bidang pendidikan, khususnya kegiatan pembelajaran, PTK berkembang sebagai suatu penelitian terapan. PTK sangat bermanfaat bagi guru untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran di kelas. Dengan melaksanakan tahap-tahap PTK, guru dapat menemukan solusi dari masalah yang timbul di kelasnya sendiri, bukan kelas orang lain, dengan menerapkan berbagai ragam teori dan teknik pembelajaran yang relevan secara kreatif. Selain itu sebagai penelitian terapan, disamping guru melaksanakan tugas utamanya mengajar di kelas, tidak perlu harus meninggalkan siswanya. Jadi PTK merupakan suatu penelitian yang mengangkat masalah-masalah aktual yang dihadapi oleh guru di lapangan. Dengan melaksanakan PTK, guru mempunyai peran ganda : praktis dan peneliti.
   
2.    Mengapa Penelitian Tindakan Kelas Penting 

 
Ada beberapa alasan mengapa PTK merupakan suatu kebutuhan bagi guru untuk meningkatkan profesional seorang guru :
1.    PTK sangat kondusif untuk membuat guru menjadi peka tanggap terhadap dinamika pembelajaran di kelasnya. Dia menjadi reflektif dan kritis terhadap lakukan.apa yang dia dan muridnya
2.    PTK dapat meningkatkan kinerja guru sehingga menjadi profesional. Guru tidak lagi sebagai seorang praktis, yang sudah merasa puas terhadap apa yang dikerjakan selama bertahun-tahun tanpa ada upaya perbaikan dan inovasi, namun juga sebagai peneniliti di bidangnya.
3.    Dengan melaksanakan tahapan-tahapan dalam PTK, guru mampu memperbaiki proses pembelajaran melalui suatu kajian yang dalam terhadap apa yang terhadap apa yang terjadi di kelasnya. Tindakan yang dilakukan guru semata-mata didasarkan pada  masalah aktual dan faktual yang berkembang di kelasnya.
4.    Pelaksanaan PTK tidak menggangu tugas pokok seorang guru karena dia tidak perlu meninggalkan kelasnya. PTK merupakan suatu kegiatan penelitian yang terintegrasi dengan pelaksanaan proses pembelajaran.
5.    Dengan melaksanakan PTK guru menjadi kreatif karena selalu dituntut untuk melakukan upaya-upaya inovasi sebagai implementasi dan adaptasi berbagai teori dan teknik pembelajaran serta bahan ajar yang dipakainya.

Penerapan PTK dalam pendidikan  dan pembelajaran memiliki tujuan untuk memperbaiki dan atau meningkatkan kualitas praktek pembelajaran secara berkesinambungan sehingga meningkatan mutu hasil instruksional; mengembangkan keterampilan guru; meningkatkan relevansi; meningkatkan efisiensi pengelolaan instruksional serta menumbuhkan budaya meneliti pada komunitas guru.

3.Hakikat Penelitian Tindakan Kelas
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) pertama kali diperkenalkan oleh ahli psikologi sosial Amerika yang bernama Kurt Lewin pada tahun 1946. Inti gagasan Lewin inilah yang selanjutnya dikembangkan oleh ahli-ahli lain seperti Stephen Kemmis, Robin McTaggart, John Elliot, Dave Ebbutt, dan sebagainya.  
PTK di Indonesia baru dikenal pada akhir dekade 80-an. Oleh karenanya, sampai dewasa ini keberadaannya  sebagai salah satu jenis penelitian masih sering menjadikan pro dan kontra, terutama jika dikaitkan dengan bobot keilmiahannya.
Jenis penelitian ini dapat dilakukan didalam bidang pengembangan organisasi,manejemen, kesehatan atau  kedokteran, pendidikan, dan sebagainya. Di dalam bidang  pendidikan penelitian ini dapat dilakukan pada skala makro ataupun mikro. Dalam skala mikro misalnya dilakukan di dalam kelas pada waktu berlangsungnya suatu kegiatan belajar-mengajar untuk suatu pokok bahasan tertentu pada suatu mata kuliah. Untuk lebih detailnya berikut ini akan dikemukan mengenai hakikat PTK.
Menurut John Elliot bahwa yang dimaksud dengan PTK ialah kajian tentang situasi sosial dengan maksud untuk meningkatkan kualitas tindakan di dalamnya (Elliot, 1982). Seluruh prosesnya, telaah, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan pengaruh menciptakan hubungan yang diperlukan antara evaluasi diri dari perkembangan profesional. Pendapat yang hampir senada dikemukakan oleh Kemmis dan Mc Taggart, yang mengatakan bahwa PTK adalah suatu bentuk refleksi diri kolektif yang dilakukan oleh peserta–pesertanya dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran dan keadilan praktik-praktik itu dan terhadap situasi tempat dilakukan praktik-praktik tersebut (Kemmis dan Taggart, 1988).
Menurut Carr dan Kemmis seperti yang dikutif oleh Siswojo Hardjodipuro, dikatakan bahwa yang dimaksud dengan istilah PTK adalah suatu bentuk refleksi diri yang dilakukan oleh para partisipan ( guru, siswa atau kepala sekolah ) dalam situasi-situasi sosial ( termasuk pendidikan ) untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran (a)  praktik-praktik sosial atau pendidikan yang dilakukan dilakukan sendiri, (b) pengertian mengenai praktik-praktik ini, dan  (c) situasi-situasi ( dan lembaga-lembaga ) tempat praktik-praktik tersebut dilaksanakan (Harjodipuro, 1997).
Lebih lanjut, dijelaskan oleh Harjodipuro bahwa PTK adalah suatu pendekatan untuk memperbaiki pendidikan melalui perubahan, dengan mendorong para guru untuk memikirkan praktik mengajarnya sendiri, agar kritis terhadap praktik tersebut dan agar mau utuk mengubahnya. PTK bukan sekedar mengajar, PTK mempunyai makna sadar dan kritis terhadap mengajar, dan menggunakan kesadaran kritis terhadap dirinya sendiri untuk bersiap terhadap proses perubahan dan perbaikan proses pembelajaran. PTK mendorong guru untuk berani bertindak dan berpikir kritis dalam mengembangkan teori dan rasional bagi mereka sendiri, dan bertanggung jawab mengenai pelaksanaan tugasnya secara profesional.         
          Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, jelaslah bahwa dilakukannya PTK adalah dalam rangka guru bersedia untuk mengintropeksi, bercermin, merefleksi atau mengevalusi dirinya sendiri sehingga kemampuannya sebagai seorang guru/pengajar diharapkan cukup professional untuk selanjutnya, diharapkan dari peningkatan kemampuan diri tersebut dapat berpengaruh terhadap peningkatan kualitas anak didiknya, baik dalam aspek penalaran; keterampilan, pengetahuan hubungan sosial maupun aspek-aspek lain yang bermanfaat bagi anak didik untuk menjadi dewasa.
            Dengan dilaksanakannya PTK, berarti guru juga berkedudukan sebagai peneliti, yang senantiasa bersedia meningkatkan kualitas kemampuan mengajarnya. Upaya peningkatan kualitas tersebut diharapkan dilakukan secara sistematis, realities, dan rasional, yang disertai dengan meneliti semua “ aksinya di depan kelas sehingga gurulah yang tahu persis kekurangan-kekurangan dan kelebihannya. Apabila di dalam pelaksanaan    “aksi” nya masih terdapat kekurangan, dia akan  bersedia mengadakan perubahan sehingga di dalam kelas yang menjadi tanggungjawabnya tidak terjadi permasahan.
            Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan PTK ialah suatu penelitian yang dilakukan secara sistematis reflektif terhadap berbagai tindakan yang dilakukan oleh guru yang sekaligus sebagai peneliti, sejak disusunnya suatu perencanaan sampai penilaian terhadap tindakan nyata di dalam kelas yang berupa kegiatan belajar-mengajar, untuk memperbaiki kondisi pembelajaran yang dilakukan. Sementara itu, dilaksanakannya PTK  di antaranya untuk meningkatkan kualitas pendidikan atau pangajaran yang diselenggarakan oleh guru/pengajar-peneliti itu sendiri, yang dampaknya diharapkan tidak ada lagi permasalahan yang mengganjal di kelas.
 4.  Jenis dan Model PTK
Sebagai paradigma sebuah penelitian tersendiri, jenis PTK memiliki karakteristik yang relatif agak berbeda jika dibandingkan dengan jenis penelitian yang lain, misalnya penelitian naturalistic, eksperimen survei, analisis isi, dan sebagainya. Jika dikaitkan dengan jenis penelitian yang lain PTK dapat dikatagorikan sebagai jenis penelitian kualitatif dan eksperimen. PTK dikatagorikan sebagai penelitian kualitatif karena pada saat data dinalisis digunakan pendekatan kualitatif, tanpa ada perhitungan statistik. Dikatakan sebagai penelitian ekperimen, karena penelitian ini diawali dengan perencanaan, adanya perlakuan terhadap subjek penelitian, dean adanya evaluasi terhadap hasil yang dicapai sesudah adanya perlakuan. Ditinjau dari karakteristiknya, PTK setidaknya memiliki karakteristik antara lain: (1) didasarkan pada masalah yang dihadapi guru dalam instruksional; (2) adanya kolaborasi dalam pelaksanaannya; (3) penelitian sekaligus sebagai praktisi yang melakukan refleksi; (4) bertujuan memperbaiki dan atau meningkatkan kualitas praktek intruksional; (5) dilaksanakan dalam rangkaian langkah dengan beberapa siklus.
Menurut Richart Winter ada enam karekteristik PTK, yaitu (a) kritik reflektif, (b)  kritik dialektis, (c) kolaboratif, (d) resiko, (e) susunan jamak, dan (f) internalisasi teori dan praktek ( Winter, 1996) . untuk lebih jelasnya, berikut ini dikemukakan secara singkat karakteristik PTK tersebut.
a.. Kritik Refeksi 

            Salah satu langkah di dalam penelitian kualitatif pada umumnya, dan khususnya PTK ialah adanya upaya refleksi terhadap hasil observasi mengenai latar dan kegiatan suatu aksi. Hanya saja, di dalam PTK yang dimaksud dengan refleksi ialah suatu upaya evaluasi atau penilaian, dan refleksi ini perlu adanya upaya kritik sehingga dimungkinkan pada taraf evaluasi terhadap perubahan-perubahan.

b. Kritik Dialektis

            Dengan adanyan kritik Dialektif diharapkan penelitian bersedia melakukan kritik terhadap fenomena yang ditelitinya. Selanjutnya peneliti akan bersedia melakukan pemeriksaan terhadap: (a) konteks hubungan secara menyeluruh yang merupakan satu unit walaupun dapat dipisahkan secara jelas, dan, (b) Struktur kontradiksi internal- maksudnya di balik unit yang jelas, yang memungkinkan adanya kecenderungan mengalami perubahan meskipun sesuatu yang berada di balik unit tersebut bersifat stabil.

c. Kolaboratif       

            Di dalam PTK diperlukan hadirnya suatu kerja sama dengan pihak-pihak lain seperti atasan, sejawat atau kolega, mahasiswa, dan sebagainya. Kesemuanya itu diharapkan dapat dijadikan sumber data atau data sumber. Mengapa demikian? Oleh karena pada hakikatnya kedudukan peneliti dalam PTK merupakan bagian dari situasi dan kondisi dari suatu latar  yang ditelitinya. Peneliti tidak hanya sebagai pengamat, tetapi dia juga terlibat langsung dalam suatu proses situasi dan kondisi. Bentuk kerja sama atau kolaborasi di antara para anggota situasi dan kondisi itulah yang menyebabkan suatu proses dapat berlangsung.
            Kolaborasi dalam kesempatan ini ialah berupa sudut pandang yang disampaikan oleh setiap kolaborator. Selanjutnya, sudut pandang ini dianggap sebagai andil yang sangat penting dalam upaya pemahaman terhadap berbagai permasalahan yang muncul. Untuk itu, peneliti akan bersikap bahwa tidak ada sudut pandang dari seseorang yang dapat digunakan untuk memahami sesuatu  masalah secara tuntas dan mampu dibandingkan dengan sudut pandang yang berasal; dari berbagai pihak. Namun demikian memperoleh berbagai pandangan dari pada kolaborator, peneliti tetap sebagai figur yang memiliki ,kewenangan dan tanggung jawab untuk menentukan apakah sudut pandang dari kolaborator dipergunakan atau tidak. Oleh karenanya, sdapat dikatakan bahwa fungsi kolaborator hanyalah sebagai pembantu di dalam PTK ini, bukan sebagai yang begitu menentukan terhadap pelaksaanan dan berhasil tidaknya penelitian.
d.Resiko 
      Dengan adanya cirri resiko diharapkan dan dituntut agar peneliti berani mengambil resiko, terutama pada waktu proses penelitian berlangsung. Resiko yang mungkin ada diantaranya (a) melesatnya hipotesis dan (b)  adanya tuntutan untuk melakukan suatu transformasi. Selanjutnya, melalui keterlibatan dalam proses penelitian, aksi peneliti kemungkinan akan mengalami perubahan pandangan karena ia menyaksikan sendiri adanya diskusi atau pertentangan dari para kalaborator dan selanjutnya menyebabkan pandangannya berubah.
e.Susunan  Jamak      
         Pada umumnya penelitian kuantitatif  atau tradisional berstuktur tunggal karena ditentukan oleh suara tunggal, penelitiannya. Akan tetapi, PTK memiliki struktur jamak karena jelas penelitian ini bersifat dialektis, reflektif, partisipasi atau kolaboratif. Susunan jamak ini berkaitan dengan pandangan bahwa fenomena yang teliti harus mencakup semua komponen pokok supaya bersifat komprehensif. Suatu contoh, seandainya yang diteliti adalah diteliti adalah situasi dan kondisi proses belajar-mengajar, situasinya harus meliputi paling tidak guru, siswa, tujuan pendidikan, tujuan pembelajaran, interaksi belajar-mengajar, lulusan atau hasil yang dicapai , dan sebagainya.
f. Internalisasi Teori dan Praktik
            Menurut pandangan para ahli PTK  bahwa antara teori dan praktik bukan merupakan dua dunia yang berlainan. Akan tetapi, keduanya merupakan dua tahap yang berbeda, yang saling bergantung, dan keduanya berfungsi untuk mendukung tranformasi. Pendapat ini berbeda dengan pandangan para ahli penelitian konvesional yang beranggapan bahwa teori dan praktik merupakan dua hal yang tersipah. Keberadaan teori diperuntukan praktik, begitu pula sebaliknya sehingga kedunya dapat digunakan dan dikembangkan bersama.
            Berdasarkan uraian di atas, jelaslah bahwa bentuk PTK benar-benar berbeda dengan bentuk penelitian yang lain, baik itu penelitian yang menggunakan paradigma kualitatif pada umumnya maupun yang menggunakan paradigma kualitatif. Oleh karenanya, keberadaan bentuk PTK tidak perlu lagi diragukan, terutama sebagai upaya memperkaya khasanah kegiatan penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan taraf keilmiahannya.

5.Jenis Penelitian Tindakan Kelas    
       Ada empat jenis PTK, yaitu (a) PTK diasnogtik, (b) PTK partisipan, (c) PTK empiris, dan (d) PTK eksperimental (Chein, 1990). Untuk lebih jelas, berikut dikemukakan secara singkat mengenai keempat jenis PTK tersebut.
a. PTK Diagnostik     
        Yang dimaksud dengan PTK diagnostik ialah penelitian yang dirancang dengan menuntun peneliti ke arah suatu tindakan. Dalam hal ini peneliti mendiagnosia dan memasuki situasi yang terdapat di dalam latar penelitian. Sebagai contohnya ialah apabila peneliti berupaya menangani perselisihan, pertengkaran, konflik yang dilakukan antar siswa yang terdapat di suatu sekolah atau kelas.
b.PTK Partisipan 
       Suatu penelitian dikatakan sebagai PTK partisipan ialah apabila orang yang akan melaksanakan penelian harus terlibat langsung dalam proses penelitian sejak awal sampai dengan hasil penelitian berupa laporan. Dengan demikian, sejak penencanan panelitian peneliti senantiasa terlibat, selanjutnya peneliti memantau, mencacat, dan mengumpulkan data, lalu menganalisa data  serta berakhir dengan melaporkan hasil panelitiannya.
PTK partisipasi dapat juga dilakukan di sekolah seperti halnya contoh pada butir a di atas. Hanya saja, di sini peneliti dituntut keterlibatannya secara langsung dan terus-menerus sejak awal sampai berakhir penelitian.
c. PTK Empiris                       
      Yang dimaksud dengan PTK empiris ialah apabila peneliti berupaya melaksanakan sesuatu tindakan atau aksi dan membukakan apa yang dilakukan dan apa yang terjadi selama aksi berlangsung. Pada prinsipnya proses penelitinya berkenan dengan penyimpanan catatan dan pengumpulan pengalaman penelti dalam pekerjaan sehari-hari.
d. PTK Eksperimental  
       Yang dikatagorikan sebagai PTK eksperimental ialah apabila PTK diselenggarakan dengan berupaya menerapkan berbagai teknik atau strategi secara efektif dan efisien di dalam suatu kegiatam belajar-mengajar. Di dalam kaitanya dengan kegitan belajar-mengajar, dimungkinkan terdapat lebih dari satu strategi atau teknik yang ditetapkan untuk mencapai suatu tujuan instruksional. Dengan diterapkannya PTK ini diharapkan peneliti dapat menentukan cara mana yang paling efektif dalam rangka untuk mencapai tujuan pengajaran.

 7. Model-model  Penelitian Tindakan  Kelas
            Ada beberapa model PTK yang sampai saat ini sering digunakan di dalam dunia pendidikan, di antaranya: (a) Model Kurt Lewin, (b) Model Kemmis dan Mc Taggart, (c) Model John Elliot, dan (d) Model Dave Ebbutt.
a.    Model Kurt Lewin
            Di depan sudah disebutnya bahwa PTK pertama kali diperkenalkan oleh Kurt Lewin pada tahun 1946. konsep inti PTK yang diperkenalkan oleh Kurt Lewin ialah bahwa dalam satu siklus terdiri dari empat langkah, yaitu: 1) Perencanaan ( planning), 2) aksi atau tindakan (acting), 3) Observasi (observing), dan 4)  refleksi (reflecting)   ( Lewin, 1990). Sementara itu, empat langkah  dalam satu siklus yang dikemukakan oleh Kurt Lewin  tersebut oleh Ernest T. Stringer dielaborasi lagi menjadi : 1) Perencanaan  ( planning ) , 2) pelaksaan  ( Implementing), dan  3) Penolaian (evaluating) ( Ernest, 1996) .
b.    Model John Elliot
            Apabila dibandingkan dua model yang sudah diutarakan di atas, yaitu Model Kurt Le win dan Kemmis-Mc Taggart, PTk Model john Elliot ini tampak lebih detail dan rinci. Dikatakan demikian, oleh karena didalam setiap siklus dimungkinkan terdiri dari beberapa aksi yaitu antara tigalima aksi ( tindakan). Sementara itu, setiap aksi kemungkinan terdiri dari beberapa langkah ( step), yang terealisasi dalam bentuk kegitan belajar-mengajar.
            Maksud disusunnya secara terinci pada PTK Model John Elliot ini, supaya terdapat kelancaran yang lebih tinggi antara taraf-taraf di dalam pelaksanan aksi atau proses belajar-mengajar. Selanjutnya, dijelaskan pula olehnya bahwa terincinya setiap aksi atau tindakan sehingga menjadi beberapa langkah (step) oleh karena suatu pelajaran terdiri dari beberapa subpokok bahasan atau materi pelajaran. Di dalam kenyataan praktik di lapangan setiap pokok bahasan biasanya tidak akan dapat diselesaikan dalam satu langkah, tetapi akan diselesaikan dalam beberapa rupa itulah yang menyebabkan John Elliot menyusun model PTK yang berbeda secara skematis dengan kedua model sebelumnya, yaitu seperti yang terdapat di dalam yang dikemukakan pada halaman berikut ini.



SIKLUS PELAKSANAAN PTK


 

















GAMBAR 4: Riset Aksi Model john Elliot

                                                                                                                           
8 Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas
8..1. Tahapan Pelaksanaan PTK
Banyak model PTK yang dapat diadopsi dan diimplementasikan di dunia pendidikan. Namun secara singkat, pada dasarnya PTK terdiri dari 4 (empat) tahapan dasar yang saling terkait dan berkesinambungan: (1) perencanaan (planning), (2) pelaksanaan (acting), (3) pengamatan (observing), dan (4) refleksi (reflecting).  Namun sebelumnya, tahapan ini diawali oleh suatu Tahapan pra PTK, yang meliputi:
·  Identifikasi masalah
·  Analisis masalah
·  Rumusan masalah
·  Rumusan hipotesis tindakan
Tahapan pra PTK ini sangat esensial untuk dilaksanakan sebelum suatu rencana tindakan disusun. Tanpa tahapan ini suatu proses PTK akan kehilangan arah dan arti sebagai suatu penelitian ilmiah. Beberapa pertanyaan yang dapat  diajukan guna menuntut pelaksanaan tahapan PTK adalah sebagai berikut ini.
1.    Apa  yang memprihatinkan  dalam proses pembelajaran?
2.    Mengapa hal itu terjadi dan apa sebabnya?
3.    Apa yang dapat dilakukan dan bagaimana caranya mengatasi keprihatinan tersebut?
4.    Bukti-bukti apa saja yang dapat dikumpulkan untuk membantu mencari fakta apa yang terjadi?
5.    Bagaimana cara mengumpulkan bukti-bukti tersebut?
Jadi, tahapan pra PTK ini sesungguhnya suatu reflektif dari guru terhadap masalah yang ada dikelasnya. Masalah ini tentunya bukan bersifat individual pada salah seorang murid saja,  namun lebih merupakan masalah umum yang bersifat klasikal, misalnya kurangnya motivasi belajar di kelas, rendahnya kualitas daya serap klasikal, dan lain-lain. Berangkat dari hasil pelaksanaan tahapan pra PTK inilah suatu rencana tindakan dibuat.
a.Perencanaan Tindakan  
            Berdasarkan pada identifikasi masalah yang dilakukan pada tahap pra PTK, rencana tindakan disusun untuk menguji secara empiris hipotesis tindakan yang ditentukan. Rencana tindakan ini mencakup semua langkah tindakan secara rinci. Segala keperluan pelaksanaan PTK, mulai dari materi/bahan ajar, rencana pengajaran yang mencakup metode/ teknik mengajar, serta teknik atau instrumen observasi/ evaluasi, dipersiapkan dengan matang pada tahap perencanaan ini. Dalam tahap ini perlu juga diperhitungkan segala kendala yang mungkin timbul pada saat tahap implementasi berlangsung. Dengan melakukan antisipasi lebih dari diharapkan pelaksanaan PTK dapat berlangsung dengan baik sesuai dengan hipotesis yang telah ditentukan.
b. Pelaksanaan Tindakan    
Tahap ini merupakan implementasi ( pelaksanaan) dari semua rencana yang telah dibuat. Tahap ini, yang berlangsung di dalam kelas, adalah realisasi dari segala teori pendidikan dan teknik mengajar yang telah disiapkan sebelumnya. Langkah-langkah yang dilakukan guru tentu saja mengacu pada kurikulum yang berlaku, dan hasilnya diharapkan berupa peningkatan efektifitas keterlibatan kolaborator sekedar untuk membantu si peneliti untuk dapat lebih mempertajam refleksi dan evaluasi yang dia lakukan terhadap apa yang terjadi dikelasnya sendiri. Dalam proses refleksi ini segala pengalaman, pengetahuan, dan teori pembelajaran yang dikuasai dan relevan.

c. Pengamatan tindakan  
Kegitan observasi dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan. Data yang dikumpulkan pada tahap ini berisi tentang pelaksanaan tindakan dan rencana yang sudah dibuat, serta dampaknya terhadap proses dan hasil intruksional yang dikumpulkan dengan alat bantu instrumen pengamatan yang dikembangkan oleh peneliti. Pada tahap ini perlu mempertimbangkan penggunaan beberapa jenis instrumen ukur penelitian guna  kepentingan triangulasi data.
 Dalam melaksanakan observasi dan evaluasi, guru tidak harus bekerja sendiri. Dalam tahap observasi ini guru bisa dibantu oleh pengamat dari luar ( sejawat atau pakar). Dengan kehadiran orang lain dalam penelitian ini, PTK yang dilaksanakan menjadi bersifat kolaboratif. Hanya saja pengamat luar tidak boleh terlibat terlalu dalam dan mengintervensi terhadap pengambilan keputusan tindakan yang dilakukan oleh peneliti.
 d. Refleksi Terhadap Tindakan
Tahapan ini merupakan tahapan untuk memproses data yang didapat saat dilakukan pengamatan (observasi). Data yang didapat kemudian  ditafsirkan dan dicari eksfanalasinya, dianalisis, dam disistesis. Dalam proses pengkajian data ini dimungkinkan untuk melibatkan orang luar sebagai kolaborator, seperti halnya pada saat observasi. Keterlebatan kolaborator sekedar untuk membantu peneliti untuk dapat lebih tajam melakukan refleksi dan evaluasi. Dalam proses refleksi ini segala pengalaman, pengetahuan, dan teori instruksional yang dikuasai dan relevan dengan tindakan kelas yang dilaksanakan sebelumnya, menjadi bahan pertimbangan dan perbandingan sehingga dapat ditarik suatu kesimpulan yang mantap dan sahih.
            Proses refleksi ini memegang peran yang sangat penting dalam menentukan suatu keberhasilan PTK. Dengan suatu refleksi yang tajam dan terpecaya akan didapat suatu masukan yang sangat berharga dan akurat bagi penentuan  langkah tindakan selanjutnya. Refleksi yang tidak tajam akan memberikan umpan balik yang misleading dan bias, yang pada akhirnya menyebabkan kegagalan suatu PTK. Tentu saja kadar ketajaman proses refleksi ini ditentukan oleh kejataman dan keragaman instrumen observasi yang dipakai sebagai upaya triangulasi data. Observasi yang hanya mengunakan satu instrumen saja. Akan menghasilkan data yang miskin.Adapun untuk memudahkan dalam repleksi bisa juga dimunculkan kelebihan dan kekurangan setiap tindakan dan ini dijadikan dasar perencanaan siiklus selanjutnya. Pelaksanaan repleksi diusakan tidak boleh lebih dari 24 jam artinya begitu selesai observasi langsung diadakan repleksi bersama kolaborator.
            Demikianlah, secara keseluruhan keempat tahapan dalam PTK ini membentuk suatu siklus. Siklus ini kemudian diikuti oleh siklus-siklus lain secara bersinambungan seperti sebuah spiral. Kapan siklus-siklus tersebut berakhir? Pertanyaan ini hanya dapat dijawab oleh si peneliti sendiri.  Kalau dia sudah merasa puas terhadap hasil yang  dicapai dalam suatu kegiatan PTK yang dia lakukan, maka dia akan mengakhiri siklus-siklus tersebut. Selanjutnya, dia akan melakukan satu indentifikasi masalah lain dan kemudian diikuti oleh tahapan-tahapan PTK baru guna mencari solusi dari masalah tersebut.

2.    Langkah-langkah dalam Menyusun Proposal PTK
1.Judul Penelitian
            Judul hendaknya mencerminkan permasalahan pokok yang akan dipecahkan, sedapat mungkin mengandung unsur  variabel utama yang diteliti.  Judul harus deklaratif, singkat, jelas ( 8 sampai 10 kata)  dan memberi kemungkinan penafsiran yang bermacam-macam.
            Setelah halaman judul dilanjutkan dengan halaman pengesahan proposal PTK, yang berisi tentang hal-hal yang berkenaan dengan judul peneliti ( judul, bidang ilmu, dan kategori penelitian), ketua peneliti, jumlah peneliti ( nama, jenis kelamin, golangan/ pangkat, jabatan dan satmintal), lokasi penelitian, kerja sama dengan istansi lain, waktu penelitian, serta biaya yang di perlukan.
            Contoh judul:
(1)  Peningkatan keterampilan menulis bahasa inggris di SMP melalui pendekatan proses,
(2) Optimasisasi intruksional matematika perorganisasian tugas terstuktur dan kuis pada siswa kelas II SLTP Negeri 14 Bandung
2. Isi Proposal   
            Berisi latar belakang dan indentifikasi permasalahan yang pada pokoknya menguraikan konteks permasalahan, pentingnya masalah ini diteliti dan manfaatnya yang diharapkan dari temuan penelitian  jika pelaksaanaannya selesai. Secara keseluruhan isi prosal terdiri atas hal sebagai berikut.
A. Pendahuluan       
Berisi hal yang melatar belakangi mengapa penelitian penting dilakukan dan indentifikadi permasalahan, yang pada pokoknya menguraikan konteks permasalahan serta mampu merumuskan antara das sein dan das sollen (Keharusan dan kenyataan ), pentingnya masalah ini diteliti dan manfaat yang diharapkan dari temuan penelitian jika pelaksanaannya telah selesai .
B. Perumusan Masalah
Menguraikan perumusan masalahnya dalam kalimat-kalimat naratif, baik berupa pertanyaan ataupun pernyataan problematis. Biasanya dikemukakan beberapa butir permasalahan yang secara ekplisit menggambarkan tahap-tahap diagnosis masalah, terapi yang akan dilakukan untuk memecahkan masalah dan gambaran keberhasilan atau keefektifan  tindakan yang diambil. Pada proposal lengkap, biasanya juga dijumpai  uraian khusus tentang tujuan penelitian dan manfaat penelitian.
C. Kajian Pustaka dan Penelitian yang Relevan
Berisi kajian pustaka untuk mendasari tindakan yang direncanakan sebagai pemecahan masalah, dan hasil-hasil penelitian lain yang erat kaitannya  dengan permasalahan yang sedang akan diteliti. Sedapat mungkin diusahkan agar mempertimbangkan kemutahiran dan relevansi bahan pustaka. Di bagian ini biasanya dapat dirumuskan suatu hipotesis tindakan. Hipotesis tindakan dapat dirumuskan berdasarkan teori, pengalaman atau hasil penelitian di setting yang lain. Rumusan hipotesis tindakan hendaknya menyatakan intervensi yang akan dilaksanakan dan hasil yang akan diperoleh.
D. Tujuan Penelitian Tindakan
E. Kontribusi Penelitian
F. Metode Penelitian
Motede atau prosedur penelitian yang menguraikan secara rinci : (a) setting atau lokasi penelitian, (b) subjek yang terlibat sebagai peniliti, kolaborator atau partisipan, (c) alat-alat dan teknik pemantauan atau monitoring dalam proses pengumpulan data,(d) rencana tindakan, yang mengkaji langkah-langkah yang ditempuh melalui tahap-tahap atau siklus penelitian tindakan, antara lain fase diagnostik ( mengedintifikasi ploblem) dan fase terapeutik (pemecahan plobem), (e) sumber data, (f) jenis data, teknik pengumpulan data, (g) teknik pengumpulan data, (h) teknik analisis data dan (i) Kriteria indikator atau rambu-rambu evaluasi dan refleksi.

G. Personalia Penelitian
Tim peneliti yang melaksanakan penelitian ini dilapangan PTK haus tercantum dengan jelas, kadang-kadang ditentut melampirkan curiculum vitae yang menunjutkan bidang keahlian dalam track record yang relevan dengan penelitian yang dilaksanakan.
H. Rencana Pembiayaan Penelitian   
Berisi rincian rencana pengeluaran biaya penelitian,  misalnya untuk uang lelah atau honorarium, perjalanan, bahan dan operasi di sekolah pra-observasi, pelaksanaan observasi lapangan ,penyusunan instrumen monitoring, peralatan, bahan habis, analisis data. Dengan komputer , dan lain-lain  ( laporan ) dan sebagainya.
I. Jadwal Kerja
Proposal penelitian hendaknya juga mencantumkan rencana pelaksanakan di lapangan dalam suatu jadwal atau matriks kegiatan, baik berupa time schedule, cara atau teknik penjadwal yang lebih lengkap.
J. Lampiran-lampiran
Proposal penelitian hendaknya melampirkan juga daftar kepustakaan dan daftar riwayat hidup tim peneliti
9. Rambu-rambu dalam Menyusun Laporan PTK
A.    Halaman Sampul;
B.    Halaman Pengesahan
C.   Abstak
D.   Kata pengantar
E.    Daftar isi
F.    Bab 1. penadahuluan:
1.    Latar Belakang
2.    Rumusan Masalah
3.    Tujuan
4.    Hipotesis Tindakan
5.    Manfaat
G.   Bab. 2 Kajian Pustaka
H.   Bab.3  Metode:
1.    Rancangan Penelitian
a.    Perencanaan Tindakan
b.    Pelaksanaan  Tindakan
c.    Pengamatan
d.    Refleksi
2.    Lokasi dan sebjek penelitian
3.    pengumpulan data
4.    analisis data
I.      Bab 4. Hasil dan Pembahasan
J.    Bab 5 Penutup
1.    Simpulan  2. saran saran

 FORMAT PENGAMATAN  PENGELOLAAN BELAJAR MENGAJAR

Berikut ini diberikan daftar identitas (1), dafta aspek yang diamati dalam pengelolaan proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru di dalam kelas atau Laboratorium (II), dan kesan pengamat terhadap penampilan  serta kemampuan guru dalam mengelola proses belajar mengajar (III), Rincian mengenai penampilan dan kemampuan.
Pengamat diharapkan :
  1. Mengisi daftar identitas KBM yang diamati;
  2. Mengisi aspek yang diamati dan mencatat hal – hal yang penting dan relevan sehubungan dengan aspek yang diamati
  3. Memahami rincian mengenai penampilan dan kemampuan guru;
  4. Memberikan kesannya terhadap penampilan/ kemampuan guru dalam mengelola proses belajar mengajar; dan
  5. Menuliskan hal – hal yang penting dan relevan dalam catatan khusus pengamat.

I.              IDENTITAS KBM YANG DIAMATI
1. Nama Sekolah                          :
2. Alamat Sekolah                                    :
3. Nama Guru                               :
4. Mata Pelajaran                          :
5. Materi/Bahan Pembelajaran :
6. Siklus                                        :
7. Kelas/Semester                                    :
8. Hari/Tanggal                             :
9.Waktu/Pertemuan                      :
   
    
    II.       IDENTITAS PENGAMAT :
1.    ……………………………..
2.    ……………………………..
3.    ……………..........................

    III.    ASPEK YANG DIAMATI

Petunjuk Pengisian :

Berilah tanda V pada kolom yang sesuai dengan aspek yang diamati, dan catatlah hal – hal yang penting dan relevan sehubungan dengan aspek yang diamati dalam kolom keterangan.


No.
Aspek  yang  diamati
ya
tidak
Keterangan/Penjelasan singkat

1.


  2.
  3.

  4.

  5. 
A. Pendahuluan
Apakah guru mengabsen, memotivasi/membangkitkan minat siswa belajar.
Apersepsi
Mengkomunikasikan tujuan pembelajaran
Telah menyiapkan alat bahan atau media pembelajaran
Mengemukakan alur kegiatan yang akan dilakukan siswa




6.

  7.
  8.

  9.
 10.
 11.



 12.



 13.

 14. 
B. Kegiatan Pokok
Apakah guru menggunakan alat, bahan atau media pembelajaran?
Sesuaikah media dengan materi?
Memotivasi siswa untuk bertanya?
Berperan sebagai fasilitator?
Mengaktifkan diskusi?
Meminta siswa mengkomunikasikan hasil kerja pengamatan/percobaan buah pikiran
Membimbing siswa mesimpulkan siswa hasil pengamatan/percobaan/belajar (diskusi )
Memantau kesulitan/kemajuan belajar siswa?
Segera memberikan kegiatan perbaikan/pengayaan?
( secara individual )




 15.

 16.
 17.  
C. Penutup
Apakah siswa membuat rangkuman
Siswa memberi contoh-contoh
Memberi tugas ( PR )





IV.          PENAMPILAN KEMAMPUAN

Sebelum  mengisikan kesan Anda terhadap penampilan dan kemampuan guru, pahamilah dulu rincian mengenai penampilan – penampilannya di bawah ini :

A.    Penampilan guru :
1.    ceria
2.    antusias
3.    kerapian
4.    kebersihan
5.    ………….
B.    Penggunaan papan tulis :
1.    Tulisan jelas dan dapat dibaca sampai dibelakang
2.    Dipisahkan tempat untuk menulis hal – hal yang segera dihapus dan hal – hal tidak dihapus sampai akhir pelajaran
3.    Istilah – istilah baru ditulis  di papan tulis.
C.   Pengelolaan waktu :
1.    Menggunakan waktu secara efektif dan efisien
2.    Menggunakan sebagian waktu untuk menciptakan situasi siswa belajar
D.   Pengelolaan kelas :
1.    Menenangkan kelas sebelum memulai pelajaran
2.    Mengatur pengelompokan siswa
3.    …………………………………………………..
E.    Teknik bertanya :
1.    Menyebarkan peretanyaan kepada siswa
2.    Memperhatikan waktu tunggu
3.    Menghindari jawaban serentak
4.    Pertanyaan terbuka dan tertutup seimbang
5.    Menanggapi jawaban siswa dengan baik dan penuh perhatian
6.    Mengajukan pertanyaan kreatif
7.    Tidak sering mengulangi jawaban siswa
8.    Tidak sering mengulangi pertanyaan yang sama
F.    Penerapan pembelajaran kooperatif :
1.    Membagi siswa dalam kelompok – kelompok
2.    Meminta siswa bersama – sama memecahkan masalah untuk mencapai tujuan pembelajran
3.    Memberikan uji awal dan uji akhir termasuk pemberian skor perorangan dan skor kelompok
4.    Menetapkan scapffolding dalam membimbing siswa
5.    Mempersiapkan lingkungan sistuasi belajar yang kondusif.


  Pedoman Observasi Siswa

Mata pelajaran                        : ………………………………………….
Guru yang mengajarkan         : ………………………………………….
Topik yang diajarkan              : ………………………………………….
Waktu                                      : ………………………………………….

No.
Ciri prilaku siswa dalam melaksanakan kegiatan belajarnya
Ada/ya
Tidak
ada
Komentar
1.
Mencari dan memberikan informasi



2.
Bertanya kepada guru atau siswa lain



3.
Mengajukan pendapat atau komentar kepada guru atau kepada siswa



4.
Diskusi atau memecahkan masalah



5.
Mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru



6.
Memanfaatkan sumber belajar yang ada



7.
Menilai dan memperbaiki pekerjaannya



8.
Membuat simpulan sendiri tentang pembelajaran yang diterimanya



9.
Dapat menjawab pertanyaan guru dengan tepat saat berlangsung KBM



10.
Memberikan contoh dengan benar



11.
Dapat memecahkan masalah dengan tepat



12
Ada usaha dan motivasi untuk mempelajari bahan pelajaran atau stimulus yang diberikan oleh guru



13.
Dapat bekerja sama dan berhubungan dengan siswa lain



14.
Menyenangkan dalam KBM



15.
Dapat menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru pada akhir pelajaran




Keterangan : No. 1 samapai dengan no. 8 ialah cirri proses  sedangkan no. 9 sampai
                        Dengan no. 15 ialah cirri hasil belajar.
                                                                                    Bandung, ………………..
                                                                                                            Penyaji,
Pengamat,
  1. ………………..
  2. ………………..
  3. ………………..                                                            ……………………….






























FORMAT PENGAMATAN KEGIATAN BALAJAR MENGAJAR
Mata Pelajaran            : ……………………………….
Satuan Pendidikan      : ……………………………….
Kelas/Semester          : ……………………………….
Waktu                          : ……………………………….
Butir Pembelajaran     : ……………………………….     



BAGIAN
PENGAMATAN
APAKAH GURU MELAKSANAKANYA
KOMENTAR
YA
TIDAK
PERSIAPAN
1.    Skenario pembelajaran/perencanaan pembelajaran
2.    Penyiapan alat/media pembelajaran
3.    Penampilan penyaji



PENYAJIAN
PENDAHULUAN
4.  Pemeriksaan kehadiran
     siswa
5.  Pelaksanaan apersepsi
6.  Pengungkapan tujuan
     pembeajaran
7. Pemberian motivasi pem-
    belajaran yang menarik
    berkaitan dengan tujuan
    pembelajaran
8. Penjelasan alur pelaksa-
    naan pembelajaran
    ( pengelompokan dsb. )
POKOK
9. Penerapan strategi pem-
    belajaran tertentu
10. Pemanduan sajian
      materi pembelajaran
   ( keterpaduan bahan )
11. Penggunaan alat/media
      pembelajaran
12. Penerapan teknik
      bertanya
13. Pemberian penglaman
      berbahasa kepada siswa



14. Pembahasan hasil kerja
      Melibatkan keaktifan
      Siswa
15. Pemberian bimbingan
      siswa
16. Penggunaan bahasa
      penyaji





PENUTUP
17. Penggunaan sistem
      penilaian ( tetulis/lisan )
18. Pemberian tindak lanjut
      (perbaikan/pengayaan
19. Pemahaman wawasan
      siswa ( Tugas ke Perpus-
      takaan dsb. )




JUMLAH






Simpulan                     : …………………………………………………

                                      ………………………………………………….


Saran – saran             : …………………………………………………..
           
                                 …………………………………………………..
         Pengamat,                                                                     Penyaji,

  1. ……………………………….
  2. …………………………….....
  3. ………………………………..             ……………………….
NIP.















LEMBAR KERJA

          Judul : Penelitian Tindakan Kelas ( PTK )
        
         Sesi             :

        Waktu : 10 jam pelajaran
---------------------------------------------------------------------------------
A. Tujuan Mata Sajian

     Setelah mengikuti pelatihan ini, peseta dapat :
    
1.      Memahami konsep dari PTK
2.      Menyusun satu jenis rencana PTK untuk satu masalah
B. Ruang Lingkup Materi       
     1. Pengertian PTK            
     2. Karakteristik PTK
     3. Tujuan PTK
     4. Sifat PTK
     5. Ciri – Ciri PTK
     6. Prinsip – Prinsip PTK
    7. Butir Kunci PTK
    8. Manfaat PTK
    9. Fungsi  PTK
   10. Kelebihan dan Kekurangan PTK
  11. Merumuskan Masalah
   12. Merencanakan Tindakan
   13. Pelaksanaan Tindakan dan Observasi
   14. Pemecahan Masalah
   15. Teknik Pengolahan Data dan Analisis Data
   16. Langkah – Langkah Pengolahan Data
   17. Tahap Validasi
   18. Tahapan Pelaksanaan PTK
   19  Perbedaan antara PTK dan Non PTK
   20. Langkah Praktis Pelaksanaan PTK
   21. Format Proposal PTK
   22. Pedoman Penyusunan Format Laporan PTK
   23. Format Artikel  PTK.
    





































PENELITIAN TINDAKAN KELAS




Disajikan pada inhouse training PTK SMAN 1 cikembar Kab Sukabumi
Tanggal  23 Oktober   2007





 







OLEH :
             Drs. Tatang Sunendar  MSi






DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
DIREKTORAT JENDERAL PENINGKATAN MUTU PENDIDIK
DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN (LPMP) JAWA BARAT
TAHUN 2007
















 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar